Mesjid
Raya Al-Mashun merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi identitas kota
Medan. Didirikan pada tanggal 21 Agustus 1906 oleh Sultan Mahmud Perdasa Alam.
Mesjid Raya Al-Mashun Medan yang terletak di kelurahan Aur, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan kira-kira tiga km dari bandara Polonia, dan 28 km dari pelabuhan Belawan. Disebelah barat dibatasi dengan jalan Mahkamah, di sebelah utara dibatasi dengan jalan Mesjid, di sebelah selatan terdapat pemungkiman yang dibatasi oleh jalan Sipiso-piso, serta di sebelah timur dibatasi oleh jalan Sisingamaharaja.
Mesjid Raya Al-Mashun Medan yang terletak di kelurahan Aur, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan kira-kira tiga km dari bandara Polonia, dan 28 km dari pelabuhan Belawan. Disebelah barat dibatasi dengan jalan Mahkamah, di sebelah utara dibatasi dengan jalan Mesjid, di sebelah selatan terdapat pemungkiman yang dibatasi oleh jalan Sipiso-piso, serta di sebelah timur dibatasi oleh jalan Sisingamaharaja.
Bangunan mesjid ini sangatlah unik karena sang arsitek, T.H van Erp merancang mesjid ini dengan corak campuran Maroko, Eropa, Melayu dan Timur Tengah. Disetiap sudut mesjid ini mengandung unsur seni yang sangat tinggi. Seluruh ornamentasi di dalam mesjid baik di dinding, plafon,
tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan
tumbuh-tumbuhan membuat bangunan mesjid ini tanpa begitu sangat berharga dan bernilai
tinggi.
Bila kita akan memasuki Mesjid Raya
Al-Mashun harus melewati gapura. Gapura ini memilili dua buah ruangan yang
terdapat di sisi kanan dan kiri. Ruangan ini sekarang difungsikan sebagai
kantor pengurusan mesjid. Setelah kita melewati gapura, kita akan terkesima
melihat bangunan induk dan di sisi timur terdapat bangunan tempat wudhu, dan
sisi utara dijumpai menara mesjid. Denah
mesjid ini berbentuk persegi depalan (oktagonal). Ruangan-ruangan dalam
bangunan induk terdiri dari serambi dan ruangan utama mesjid.
Di dalam ruangan utama mesjid yang
digunakan sebagai tempat shalat, terdapat dua mimbar yakni mimbar satu yang
terletak di sebelah barat laut dan mimbar yang kedua terletak disebelah timur.
Mihrab, sebagai tempat imam shalat terletak di sebelah barat laut mesjid
sebagai arah kiblat ini terbuat dari marmer berwarnah hijau dan krem. Menurut
hasil wawancara sementara mihrab ini diimpor dari Eropa. Hiasan lainnya seperti
jendela, tiang penyangga, dan mimbar merupakan bahan yang diimpor langsung di
Eropa.
Pada masa lalu mesjid ini merupakan tempat
shalat jumat satu-satunya di wilayah Kesultanan Deli. Pada tahun 1970 dilakukan
pengecetan oleh Direktorat Jendral Pariwisata pada bagian luar dengan
menyesuaian warna asli. Tahun 1991 dilaksanakan perbaikan yang meliputi
perbaikan jalan, taman, perkarangan, halaman, dan pergantian bola-bola lampu
yang rusak. Akan tetapi keseluruhan bangunan ini masih dijaga keaslian oleh
pengurus mesjid yang mesih keturunan Kesultanan Deli.
Setiap harinya Mesjid Raya Al-Mashun ramai
dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Mesjid yang menjadi salah
satu tempat objek wisata Kota Medan ini, sudah selayaknya kita ikut menjaga
Bangunan Mesjid Al-Mashun. Agar peninggalan yang sangat bernilai ini dapat
dinikmati oleh anak cucu kita kenal.
Anom, I.G.N., dkk. 1999. Masjid Kuno
Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
Sumalyo,
Yulianto. 2006. Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim. Yogyakarta
:
Gadjah Mada University Press
Artikel ini juga bisa diliat di www.permatasumut.blogspot.com
