Sabtu, 22 Desember 2012

Cintaku Sederhana

Cinta, sebuah kata yang ketika kita menyebutnya, terdesir dihati. Ada juga yang meletakkan label "galau" ketika mendengar orang bercerita cinta. lagi-lagi cinta, yang membuat orang tak mengerti cinta. Tapi bagiku cinta itu sederhana. Cinta adalah Aku, Kamu, dan Dia.

Sabtu, 15 Desember 2012

Rona Abadi


Rona Abadi kian nun menyentilku
Seakan terlabu damai
Terasa terpanjat jelita
Tapi hanya ku yang merasa

Rona Abadi, dalam lamunan
Terbawa tawa-tawa rana
Abstrak tertata-tata
Tapi hanya ku yang merasa

Rona Abadi, dalam laraku
Meringis sepi tersayat
Bahtera luka terlalu menganga
Tapi hanya ku yang merasa

Rona Abadi dalam tapaku
Jangan kau beduk gaungan
Karna ku tak akan binar
Tap hanya ku yang merasa

Itulah, Rona Abadi
Aku merasa
Tapi, tak punya cela
Untuk menikmati mentari dan bernyanyi
Karna ku tak memiliki fungsi rona abadi

Kamis, 13 Desember 2012

Salak Medan vs Salak Jogja (Versi Nazwa)

       Salak, siapa sih yang tidak mengenal buah yang satu ini? Buah yang kulitnya seperti sisik ular ini memiliki nama ilmiahnya adalah Salacca zalacca. Sama dengan buah yang lainnya, salak juga memiliki banyak penggemar atau penyuka buah tersebut, salah satunya adalah saya. Alhamdulillah, sore tadi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar saya dan memberikan oleh-oleh dari Jogjakarta, yaitu salak pondoh. Awalnya saya mengira rasa buah salak itu sama saja dengan buah salak yang sering saya makan. Tetapi setelah saya mencicipi salak pemberikan Kak Zizah ini, akhirnya saya menemukan perbedaannya.
       Hmm, gigitan pertama saya lumat daging salak itu dengan perlahan-lahan. Ada 'sesuatu' yang sangat terasa dilidah saya yang membuat saya penasaran dan kemudian mengupas salak yang kedua. Saya mengunyah perlahan-lahan sampai dibuah salak yang ketiga, saya pun berhenti menguyah. Saya berkesimpualan, yah inilah cita rasa salak pondoh Jogja.
       Saya sebagai putri kelahiran Sumatera Utara, yang sudah hidup hampir 21 tahun mungkin lidah saya pun sudah termasuk lidah khas SUMUT. Buah salak yang sering saya makan, adalah buah salak yang ditanam oleh petani SUMUT juga. Dan ketika saya mencicipi buah salak pondoh Jogja itu, ada 'sesuatu' yang hilang dilidah saya, 'sesuatu' yang membuat saya bertanya-tanya, apakah ini benaran buah salak?
       Tercetuslah pernyataan saya,"Rasanya kok salak ini enak ya? tapi kurang ada geregetnya dilidah?" pertanyaan ini saya lontarkan kepada teman sekamar saya di Asrama, yang pada saat itu kami sedang menikmati buah salak pondoh tersebut. Ternyata teman saya itu juga merasakan hal yang sama. Buah salak pondoh Jogja ini manis tetapi ada yang kurang terasa dilidah. Huft, bukan saya saja yang merasakannya.
     Seperti kata pepatah "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Walaupun sedikit memaksakan maksud pepatah tersebut dengan kesimpulan saya yang beranggapan bahwa sebuah buah akan menuruni sifat para penanam dan tempat dirinya ditanam tetapi ya terserah saya dong, karena saya yang menulis artikel ini, hehe..
       Sesuai karakter orang Jawa yang lebih kalem, sampai-sampai buah salak pondoh ini pun jadi ikutan kalem (menurut saya ya!!!). Tetapi ini tidak menutup kemungkinan bahwa pernyataan saya di artikel ini salah. Sekarang Anda cobalah mencicipi salak pondoh Jogja dengan salak asli SUMUT dan berikan komentar Anda.
Saya Cinta Produk SUMUT!!!

Sedikit Info Buah Salak dan Manfaatnya dapat Anda lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Salak

Rabu, 12 Desember 2012

Sihir Pulau Berhala II


Laskar Pelangi "Nidji" 



Mimpi adalah kunci 

Untuk kita menaklukkan dunia 
Berlarilah tanpa lelah 
Sampai engkau meraihnya 
Laskar pelangi takkan terikat waktu 
Bebaskan mimpimu di angkasa 
Warna bintang di jiwa 


Seperti lirik lagu diatas, "mimpi adalah kunci". Sampai sekarang semua seperti mimpi bagi saya. Akhirnya sebuah tempat yang menjadi headline news orang Medan, khususnya di kampus saya, Univesitas Sumatera Utara dapat saya jelajahi.
Pukul 20.05 WIB setelah sholat isya saya beranjak dari Asrama Putri USU menuju tempat berkumpulnya para petualang yang hendak ke Pulau Berhala. Ketika turun dari motor tersayang yang diantar sama temen seasrama, Mbak Titin, saya langsung disambut hangat oleh ranger (pemandu) dengan jabatan hangat. Upz tapi tunggu dulu, saya juga menyambutnya hanya dengan senyuman dan mengtangkup kedua tangan saya ( bukan mahram Brother!). Dan karena saya adalah single traveller, mau tidak mau saya lah yang memuali mencari teman cerita perjalanan. Kenalan pertama saya adalah Kak Tessa.
Pukul 10.00 mobil kami pun mulai melaju, dengan mata yang terlelap gamang, akhirnya tengah malam kami sampai di kampung nelayan.

Selasa, 11 Desember 2012

فرش التراب (Tanah Tempat Tidurku)


فرش التراب
يضمنى وهوغطاء,  حول الرمال تلفني
بل من وراء,  والهد يحكى ظلمة,  فيها ابتلاء
والنور حق كتابه,  انسى لقاء
و اهل اين حنا نهم؟  باع و فاء
والصحب اين جموعهم؟  ترك الخصاء
والمال اين هناءه؟   صار وراء
والاسم اين بريطه بين التناع
هذه نهاية هال فرش التراب
والحب ود عشوقهم
وبكى رثاء والدمع جف مصيره
بعد البكاء
والكون ضاق بوسعه ضاقت وضاع
فالهد صار بجتفت ارض سماء
هذه نهاية هال فرش التراب
والخوف يملاء قربة
وحسن دعا ارجو الثبات وانه قسم دواء
والرب ادعو مخلصا انت رجاع
ابغى اله جنتا فيها هناء

Farshy Turab
Tanah tempat tidurku
Memelukku, dan sekarang menutupku
Pasir mengelilingiku, bahkan dibelakang punggungku
Kubur memberitahuku akan kegelapan yang menjadi deritaku
Kecerahan menarik garis
Dimana keluarga yang aku cintai?
Mereka menjual kesetianku
Kesetianku
Dimana kumpulan teman-temanku?
Mereka meninggalkan persaudaraanku
Persaudaraanku
Dimana kebahagian yang diberikan uang?
Sekarang telah meninggalkanku
Ini adalah akhirku
Tanah menjadi tempat tidurku
Dan perpisahan cinta yang panjang membuatku menangis
Sampai airmata menjadi kering karena menangis
Alam semesta menjadi sempit begitu juga ruangku
Tanah kuburanku menjadi langit
Inilah akhirku
Tanah menjadi tempat tidurku
Takut mengisi hatiku
Kesedihan menjadi penyakitku
Aku mengharapkan kalimah Tuhanku
Aku bersumpah itu menyembuhkanku
Untuk Allah aku berdoa dengan setia
Allah harapanku
Allah, syurga adalah harapanku
 untuk temukan kebahagian didalamnya.




Senin, 10 Desember 2012

نَتِيجَةُ الغَدَرِ (Akibat Menipu)


اِتَّفَقَ اَنَّ ثَلاَثَةً مِنَ الاَصْدِقَاءِ وَجَدُوْا كَنْزًا وَهُمْ فِى طَرِيْقِهِمْ اِلَى الشَّامِ فَقَرَحُوْابِهِ وَجَلِسُوْا يَسْتَرِيْحُوْنَ مِنْ عَنَاءِ السَّفَرِ وَكَانُوا جَائِعِيْنَ. فَقَالُوْا لِيَذْهَبُ وَاحِدٌمِنَّا لِيَشْتَرِيَ لَنَا طَعَامًا نَأْ كُلُهُ فَذَهَبَ اَهَدُهُمْ. وَقَالَ فِى مَفْسِهِ: لَو اَنِّى وَضَعْتُ السَمَّ فِى الطَّعَامِ, لَمَاتَ الرَّجُلَانِ وَانْفَرَدْتُ بِاكَنْزِ الثَمِيْنِ. وَفَعَلَ ذَلِكَ وَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ رَجُلَيْنِ اِتَّفَقَا عَلَى قَتْلِهِ مَتَى وَصَلَ الِيْهِمَا بِاالطَّعَامِ لِيَفُوزَا بِاكَنْزٍ بِدُوْنِهِ, فَلَمَّا وَصَلَ اِلِيْهِمَا غَدَرَابِهِ فَقَتَلَاهُ ثُمَّ اَكَالَ الطَّعَامَ فَمَاتَا عَلَى اَشرِّهِ وَاِجْتَازَ بَغْضُ الحُكَمَاءِ هَذَا المَكَانِ وَوَجَدَهُمْ مَوْتَى وَالكَنْزُ بَيْنَهُمْ. فَعَلِمَ اَنَّهُ سَبَبُ مَصْرَعِهِمْ فَقَلَ : وَيْلٌ لِكُلَا الدُنيَا مِنْ الدُنيَانِ.
Telah sepakat bahwa tiga orang teman, mereka telah menemukan harta karun sedangkan mereka di jalan menuju ke syam/siria lalu mereka bertukar piiran dan duduk untuk beristirahat karena lelah musafir (berjalan) dan mereka dalam keadaan lapar. Lalu mereka berkata ,” hendaklah salah seorang dari kita pergi membeli makanan yang akan kita makan,” maka pergilah salah seorang dari mereka dan dia berkata pada dirinya sendiri,” Seandainya aku letakkan racun didalam makanan ini niscaya 2 orang itu mati dan tinggallah aku dengan harta karun dan dia melakukan itu sedangkan dia tidak mengetahui bahwasanya 2 orang itu telah sepakat membunuhnya, apabila ia sampai dengan membawa makanan utk menyelamatkan ke 2nya beserta harta karun tersebut tanpa harus menjual harta karun. Maka tatkala ia sampai kepada 2 orang tersebut ke 2nya menipu dan membunuhnya kemudian mereka berdua memakan makanan yang beracun tersebut lalu ke2nya mati dikarenakan keracunan dan ia menemukan mereka mati dan harta karun bersama mereka, maka ia mengetahui bahwasanya sebab kehancuran mereka, lalu ia berkata “Celakalah untuk setiap dunia dari dua dunia”

Minggu, 09 Desember 2012

Pahlawan dalam Tanda Tanya (?)

Pahlawan, sebuah kata yang sederhana tetapi sangat syarat akan makna. Sebuah kata yang hanya tersandang oleh orang-orang yang berjasa. Sebuah kata yang telah teranum sejarah dalam dada. Sebuah kata yang tergema dalam dengar daun telinga. Dan ia hanya sebuah kata. Tetapi apakah itu Pahlawan?
        Kembali kita mencoba menggali ingatan kita pada sebuah peristiwa 10 November 1945. Peristiwa yang nantinya mendasari Hari Pahlawan. Sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dengan pasukan Belanda di Kota Surabaya. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia.
           Demi pengibaran bendera merah putih, banyak nyawa terenggut dengan bangga. Bangga akan sebuah perjuangan cita tanah air.  Ini bukanlah sekedar pengibaran biasa tetapi ini adalah bentuk cinta akan tanah air. Begitu besar perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan. Tidak terhitung jumlah para pejuang yang gugur di medan juang. Dan kini pada tahun 2012 sudah sampai ke 67 usia kemerdekaan bangsa Indonesia. Ini mesih terlalu dini jika kita terlupa atas jasa-jasa para pahlawan bangsa.
Apakah gelar pahlawan itu hanya dapat disandangkan pada pahlawan masa lalu? Adakah pahlawan masa kini?
         Nah, disinilah kita harus kembali intropeksi diri, akan hal-hal apa saja yang telah kita perbuat pada negeri ini. Tentunya kita malu kepada para pendahulu yang telah menghadiahkan kemerdekan yang kita sia-siakan. Tetapi, kenyataannya sekarang adalah kebanyakan dari kita malah berlomba-lomba mencoreng muka bangsanya sendiri. Kasus korupsi tersiar di media manapun, cetak, elektronik dan sebagainya. Bukan itu saja, kasus kemiskinan, ketidakadilan terus berkoak-koak terdengar. Dan kasus korupsi ini yang paling menyakitkan hati. Bagaimana tidak, ini terjadi sebuah pemerintahan yang diyakini pastilah hanya orang-orang yang berkemampuan lebih yang bisa memasukinya. Ini sudah cukup membuktikan betapa mahalnya harga sebuah kejujuran. Sampai akhirnya dibentuklah sebuah lembaga resmi pemerintah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mencoba menyingkap beberapa benalu dalam pemerintahan. KPK bagai oase ditengah carut-marutnya negeri ini. Terbukti untuk sekarang ini, beberapa kasus korupsi telah terungkap dan beberapa pejabat pemerintahan telah masuk bui. Walaupun terjadi kontraversi dalam menanggapi lembaga ini, marilah kita tetap menyemangati dan mengawasi KPK agar tetap di jalur lurus sesuai dengan amanah yang diembannya.
          Ada juga berita yang santer terdengar adalah terpilihnya Jokowi sebagai pemimpin ibukota negara ini. Harapan penduduk kota Jakarta terpangku dalam pundak kepemimpinannya. Jakarta yang sebagai wajah negara Indonesia tersebut akankah dapat dirubah menjadi sosok yang menawan dan gagah. Semua harapan dan cita-cita seolah-olah pada dirinyalah yang akan mewujudkannya. Jakarta bebas macet, Jakarta bebas banjir dan banyak permasalahan Jakarta yang dengan kepemimpinannya, ia mencoba mengatasi. Tetapi semua itu tidak akan terwujud jika tidak ada kerja sama yang baik antara pemimpin dan rakyat yang dipimpin.
       Kembali lagi ke dalam kasus korupsi, Dahlan Iskan juga termasuk tokoh yang sedang hangat-hangatnya diberitakan. Dahlan vs DPR itu yang tersiar di televisi. Dahlan sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dikenal sebagai tokoh yang bersahaja ini terlibat pada kasus korupsi. Dahlan mencoba membuktikan beberapa kasus tidak suap yang terjadi dalam pemerintahan.
       Disengaja atau tidak, kedua tokoh diatas adalah tokoh independen (non-politik). Hal ini membuat masyarakat pro dan kontra menilai kinerja mereka. Ada yang memandang positif dan memberikan apresiasi penuh kepada mereka, ada juga yang beranggapan bahwa tokoh tersebut hanyalah mencari popularitas semata. Serta ada yang tidak peduli sama sekali. Dengan adanya hal ini, cukuplah kita sebagai rakyat Indonesia, mendoakan agar KPK, Jokowi dan Dahlan serta tokoh-tokoh lainnya yang memperjuangkan kejujuran tersebut menjalankan amanahnya dengan baik.
           Sampai detik ini kita mesih menunggu sosok pahlawan sejati untuk memperbaiki bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang lebih baik lagi, maju dan tentunya bermoral. Adakah sosok pahlawan yang akan mengharumkan bangsa ini? Adakah kita tertasuk sosok pahlawan tersebut? Marilah kita tanyakan pada diri. Sesosok Pahlawan dalam tanda tanya (?)

الرّئيس ابن سِيْنَا (Ibnu Sina)

فِى أَوَاخِرِ القَرْنِ الرّابِعِ لِلهِجْرَةِ. كَانَ يُرَى فِى مَدِيْنَهِ بُخَارَى وَلَدُ صَغِيْرٌ لَمْ يَبْلُغِ اَلْعَاشِرَةَ مِنْ عُمُرِهِ. يَتَرَدَّدُ عَلَى دُورِ التَّعْلِيْمِ يَتَلَقَّى الْفِقْهَ وَالقُرْآنَ حَتَّى أَجَادّهُمَا. وَكَانَتْ تَلُوْحُ عَلَى مُحَيَّاهُ أَمَارَاتُ الفِطْنَةِ وَ الذَّ كَاء. فَصَارَ يَتَنَقَّلُ فِى الِّرَاسَةِ مِنْ عِلْمِ إِلَى عِلْمٍ. وَمِنْ بَلضدٍ إِلَى آخَرَ حَتَّى أَتْقَنَ عُلُوْمَ المنطِقِ وَ المُهَنْدَسَةِ وَ الطَّبِيْعَةِ وَ الَّلاهُوتِ وَقَرَأَ الطِّبَّ عَلَى عِيْسَى بْنِ يَحْيَ النَّصْرَانِيِّ. وَنَبَغَ فِيْهِ حَتَّى صَارَ إِمَامَ الْأَطِبَّاءِ وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ لَمْ يَتَجَاوَزِ السَّادِسَةَ عَشَرَةَ كَمَا قَالَ هُوَ عَنْ نَفْسِهِ.
هَذَا الفَيّ النَّابِغَةَ هُوَ الفيلَسُوفُ العَظِيْمُ المُلَقَّب بِا لرَّئِيْسِ أبْنِ سِيْنَا وَأَسْمُهُ أَبُوْ عَلِي الحَسَنُ. وَلِدَ فِى خَرْ مَيْنِّ. مِنْ قُرَى  بًخَرَى الوَاقِعَةِ فِى شَمَالِ أَفْغَانِسْتَانَ مِنْ وَلِدَيْنِ أَفْغَانِيَّيْنِ. وَكَانَ قَوِيَّ أَلْجِسْمِ حَاضِرَ الذَهْنِ ذَكِيَّ الفُوْادِ حَّتَّى عَزَّ نَظِيْرُهُ فِى زَمَانِهِ. يَدْأَبُ عَلَى نَهَاوَ مَا نامَ لَيْلَةَ وَاحِدَةَ بِطلولِهَا. وَلَا أُشْتَغَلَ بِالنَّهَارِ بِغَيْرِ العِلْمِ حَتَّى تَخَرَّجَ فِى الطَّبِيْعِيَّاتِ وَ الرِّيَاضِيَّاتِ وَ الْإِلهِيَّاتِ وَسَايِّرِ أَنْوَاعِ الفَلْسَفَةِ.
وَأَلَّفَ نَيِّفًا وَ مَائَةَ كِتَابٍ فِى الطِّبِّ وَالفَلْسَفَةش وَ الطَّبِيْعَةِ وَالرِّيَاضِةِ وض الأَدَبِ وَ اللُّغَةِ وَ السِّيَاسَةِ وَ المُوسِيْقَا. وَقَدْ تُرْجِمَ جَانِبٌ مِنْ كُتُبِهِ إِلَى اللُّغَاتِ الفِرِنْجِيَّةِ خُصُوصًا كِتَابَ القَانُونِ فِى الطِّبِّ الَّذِى صَارَ مَرْجِعَ أَطِبَّاءِ الْعَالَمِ إِلَى وَسَطِ القَرْنِ السَّبِعِ عَشَرَ لِلْمِلَادِ.
وَكَانَ كَثِيْرَ التَّنَقَّلِ مُولَعًا بِالأَسْفَارِ أَبْلَغَهُ جَدُّهُ إِلَى هَمَذَانَ وَ بَلَغَ مَنْصِبَ الوِزَارَةِ. ثُمَّ أعتَزَلَ وَعَكَفَ عَلَى التَّدْرِيسِ إِلَى أَنء مَاتَ بِهَا وَعُمْرُهُ ثَمَانٍ وَ خَمْسُوْنَ سَنَة.