Senin, 21 November 2011

Profil Al-Khansa



Al-Khansa adalah klub seni Muslimah Fakultas Ilmu Budaya USU yang berada di bawah naungan Keputrian Badan Ta’mirul Musholla FIB USU. Sekitar tahun 1990-an adalah awal terbentuknya Al-Khansa dengan pelopornya adalah kakak-kakak yang aktif di Musholla FIB USU.
Atas rahmat dan karunia Allah SWT,  pada Sabtu, 27 April 2003 Al-Khansa untuk perdana mengadakan Pentas Seni Sehari yang diberi nama “SMS” (Semarak Muslimah Sastra).
Dan pada tahun 2006 -2008 Al-Khansa mengalami stagnan. Pada tahun 2009 hingga sekarang Al-Khansa mulai bangkit kembali dengan semangat yang membara.
Al-Khansa terus berusaha untuk kembali merapikan manajemen seninya yaitu dengan membentuk koordinator seninya yaitu dengan membentuk koordinator dan PJ (Penanggung Jawab) masing-masing alternatif seni Islami dengan susunan Kepengurusan sebagai berikut :
            Koordinator    :           Nazwa Mustika (S. Arab 09)
            Sektretaris       :         Nurul Fitri (S. Arab 10)
            Bendahara       :         Aisyah (S. Indonesia 10)

Penanggung Jawab Bidang     :          
  1. Nasyid Al-Khansa                              :           Fitriani Pohan (Ilmu Perpustakaan 10)
  2. Teater Al-Khansa                              :           Nila Eka Sari (S. Indonesia 10)
  3. Perkusi Art Al-Khansa                        :           -
  4. Visualisasi Puisi Al-Khansa                 :           -
  5. Seni Beladiri Al-Khansa                     :           -
  6. Kreatifitas Al-Khansa                         :           Nazwa Mustika (S. Arab 09)
Selain 6 bidang di atas ada 2 bidang seni lain yang ditangani oleh bidang HUMAS keputrian BTM FIB USU yaitu :
  1. Bulletin Al-Khansa    
  2. Mading Al-Khansa
Walaupun Al-Khansa adalah Klub Seni Muslimah Ilmu Budaya tetapi tidak tertutup kemungkingkian untuk muslimah luar Ilmu Budaya (Pelajar atau Mahasiswa).
Ukhti boleh bergabung dengan Al-Khansa untuk terus belajar, berlatih dan bekarya melalui seni Islami. Silahkan berkunjung ke Bascamp Al-Khansa dengan alamat Musholla M. IQBAL BTM FIB USU atau Rumah Seni Al-Khansa di Asrama Putri USU No. 4D.
Wallahu A’lam Bisshoqab

                                                                 “Berdakwah dengan Seni”

                                                                                                                                                Wassalam
                                                                                                                                                 Al-Khansa

Rabu, 26 Oktober 2011

Corak puisi Bani Umayyah


       
Seiring dengan lahirnya kekuasaan lahir pula para sastrawan yang tidak dapat dibendung. Tokoh sastrawan yang tidak dapat dilupakan adalah Jahir, Farazdaq dan akhtal. Yang memiliki peranan penting dalam perrjalanan sejarah umayyah. Warna puisi yang  tumbuh dizaman ini adalah puisi hatai hadirnya. Puisi hatai disebabkan karena berbagai peristiwa yang seharusnya tidak terjadi, mengalir bagai derasnya arus sungai kedengkian, demam dan pembunuhan serta balas dendam yang selalu disaksikan oleh mata para sastrawan. Dengan munculnya partai-partai politik, fanatik terhadap suku dan sekte-sekte agama (Syiah, Khawarij, dan pengikut Zubair) dimana masing-masing memiliki penyair yang mendukung dan membela.
Puisi kekuasaan tumbuh subur disebabkan perhatian dari khalifah terhadap sastra. Kecintaan terhadap puisi dan kesukaan terhadap puisi yang bertema maddah, dekatnya khalifah kepada para penyair disebabkan kerena mereka suka memberi hadiah kepada penyair. Sehingga Umayyah menyuruh para penyair membuat puisi dan aktif dibidang sastra di zaman Umayyah banyak muncul dewan sastra dan forum diskusi sastra. Dan penyair banyak terpengaruh dengan gaya yang terdapat di dlam Al-quran dan Hadist.
Pada zaman Umayyah keberadaan sosial sangat mempengaruhi isi puisi sehinggal tidak banyak menemukan perkembangan dan pembaharuan pada puisi.
Tema yang berkembang diantaranya :
1.      Al-Madah
Pada zaman jahiliyah tema ini banyak dan pada zaman permulaan sedikit dan pada zaman Bani Umayyah berkembang lagi. Tema ini sangat disukai oleh para khalifah atau pimpinan pada saat itu (Nur Chalis Sofyan : 125)
Tema ini digunakan oleh penyair untuk mendapatkan hadiah dari khalifah dan pimpinan. Tema ini sebatas pujian terhadap kemuliaan, keberanian dan kesetiaan pada masa Jahiliyah. Sedangkan pada masa Bani Umayyah pujiannya berkrmban ke aspek lain seperti Agama.
Para penyair memuji seseorang karena ketakwaan, keshalihan dan keistiqamahannya, memuji para komandan yang membunuh musuh Islam, pempinan yang memberika hukuman kepada orang jahat, khalifah yang memperluas kekuasaannya dan yang menjamin rakyatnya.

2.      Al-Ghazal
Tema Al-Ghazal mu cul karena munculnya kehidupan yang serba mewah dibeberapa tempat. Dan di masa Bani Umayyah Al-Ghazal dibagi menjadi dua.
ü  Ghazal ‘Udzri
Ghazal ‘Udzri yaitu ghazal yang menggambarkan perasaan seseorang terhadap kekasihnya tetapi bukan menggambarkan yang kurang senonoh. Ghazal muncul di sebalah utara Hijaz dan merupakan kelanjutan Ghazal yang mencul pada zaman permulaan Islam. Diantara para penyair yang menulis tema ghazal ‘udzri adalah Kutsyyir Ibn Abdurrahman al Khazaniy, Jamil Ibn Abdullah Ibn Mu’amaar al Udzri.
ü  Ghazal Maksuuf
Gahazal Maksuuf yaitu ghazal yang m,enggambarkan tubuh wanita serta keindahaan-keindahannya. Diantara penyair yang menuliskan tema ini adalah Umair Ibn Abdulaah Ibn Abi Rabiah al-Makhzumi, Abdullah Ibn Umar Ibn Amr Ibn Utsman Ibn Affan Al-Quraisy (Nur Chalis Sofyan : 126)


3.      Al-Washf
Tema Al-Washf berkembang pada zaman Bani Umayyah kerena kehidupan orang Arab zaman pada zaman ini mulai berubah baik dari segi mata pencaharian, cara hidup dan tempat tinggalnya. Maka deskripsi tentang kehidupan di zaman itu pun berubah tentang istana, sungai, tentara, benteng juga ada deskripsi tentang konflik bathin atau tentang mazhab-mazhab agama.

4.      Al-hiya
Tema Al-Hiya yang sudah ada pada zaman jahiliyah berkembang lagi pada zaman Bani Umayyah, tema ini sangat dibutuhkan untuk mengobarkan fitnah di antara sekte yang berkembang dimasyarakat. Tema ini berkembang dan berubah menjadi Naqa’idh.
Seperti hanya pada zaman jahiliyah dan permulaan islam, tema ini berisi tentang sejarah para kabilah yang hidup dikedua zaman itu. Pada zaman Bani Umayyah tema ini juga mencatat kehidupan seperti sisitem politik dan gaya kehidupan sosial atau adat-istiadat orang-orang arab, baik yang baik maupun yang buruk. Penyair tekemukan dalam tema ini adalah Jarir al-Farazdaq dan Akhtal (Nur Chalis Sofyan : 125)

Selain tema-tema yang telah berkembang juga ada tema-tema baru yang muncul di zaman Bani Umayyah. Diantaranya adalah :
1.      Al-Siyasaat (Politik)
Al-siyasaat adalah tema yang memuji-muji atau mencela penguasa atau partai politik. Tema ini muncul karena banyaknya partai-partai politik yang salaing menfitnah dan berselisih.
Tema ini muncul diwarnai oleh perpecahan di kalangan umat Islam yaitu semenjak terjadi perperangan atara golongan Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dengan perang Siffin. Kemudian tampil golongan ketiga “Khawarij” yang tidak setuju dengan sikap Ali yang mengambil keputusan Arbritase, begitu juga terhadap kubu Mu’awiyah yang melakukan cara licik. Ketika itu masing-masing kelompok memiliki doktrin tersendiri dan mereka berusaha menarik masa sebanyak-banyaknya dan menarik para penyair untuk mendukung pihaknya. (Al-Taftazani 1974 : 64)
2.      An-Naqaaidh
An-Naqaaidh adalah tema yang mengobarkan permusuhan diantara para penyair. Aspek yang dipolemikkan biasanya tentang politik atau tentang kehidupan mewah para khalifah dan pemimpin.
3.      Syi’ru al Futuh wa ad-da’wah al-Islamiyah
Syi’ru al Futuh wa ad-da’wah al-Islamiyah adalah puisi yang menggambarkan tentang perluasan dan dakwah Islam. Dalam puisi ini menggambarkan bagaimana Islam memperluas daerahnya, tentang keimanan para tentara  muslim atau tentang berjihad di jalan Allah. Diantara tema yang ditulis adalah patriotisme, ratapan dan kerinduan terhadap tanah air.


    II.            Gaya Puisi pada Zaman Bani Umayyah

Gaya puisi pada zaman Bani Umayyah bermacam-macam, diantaranya :
1.      Gaya yang sukar seperti gaya puisi pada masa jahiliyah (puisi prismatis). Gaya puisi primatis dapat kita lihat pada penyair-penyair bersar di zaman Umayyah diantaranya : Al-Farazdaq, Jarir, Al-Akhtal, Dzul Rummah, Ar-Ra’i al Humayri. Ciri-ciri puisi gaya prismatis diantaranya sulit dicerna, banyak kata-kata yang ukan merupakan kata-kata sehari-hari, hubungan antara katanya kuat, tidak ada tambahan kata yang maknanya tidak diperlukan.
2.      Gaya yang mudah, seperti bahasa sehari-hari (diafan)
Gaya puisi diafan dapat dilihat dapat dilihat dari penyair Ghazal dari Hijaz seperti Jamil Busaynah, Kusyayyir Azzah. Ciri-ciri gaya diafan diantaranya : kata-kata mudah, susunan katanya teratur dan rapi, sering dijadikan lagu.
3.      Gaya yang berapa diantara yang sukar dan yang mudah
Gaya puisi mudah kadang-kadang qasidah (ode) nya dimulai dengan ghazal, ada washf tentang kuda atau cinta, ada madah fakhr, hiya dan lain-lainnya.
(Nur Chalis Sofyan, 2004 : 129)