Seiring dengan lahirnya kekuasaan lahir pula para
sastrawan yang tidak dapat dibendung. Tokoh sastrawan yang tidak dapat
dilupakan adalah Jahir, Farazdaq dan akhtal. Yang memiliki peranan penting
dalam perrjalanan sejarah umayyah. Warna puisi yang tumbuh dizaman ini adalah puisi hatai
hadirnya. Puisi hatai disebabkan karena berbagai peristiwa yang seharusnya
tidak terjadi, mengalir bagai derasnya arus sungai kedengkian, demam dan
pembunuhan serta balas dendam yang selalu disaksikan oleh mata para sastrawan. Dengan
munculnya partai-partai politik, fanatik terhadap suku dan sekte-sekte agama
(Syiah, Khawarij, dan pengikut Zubair) dimana masing-masing memiliki penyair
yang mendukung dan membela.
Puisi kekuasaan tumbuh subur disebabkan perhatian dari
khalifah terhadap sastra. Kecintaan terhadap puisi dan kesukaan terhadap puisi
yang bertema maddah, dekatnya khalifah kepada para penyair disebabkan kerena
mereka suka memberi hadiah kepada penyair. Sehingga Umayyah menyuruh para
penyair membuat puisi dan aktif dibidang sastra di zaman Umayyah banyak muncul
dewan sastra dan forum diskusi sastra. Dan penyair banyak terpengaruh dengan
gaya yang terdapat di dlam Al-quran dan Hadist.
Pada zaman Umayyah keberadaan sosial sangat mempengaruhi
isi puisi sehinggal tidak banyak menemukan perkembangan dan pembaharuan pada
puisi.
Tema yang berkembang diantaranya :
1.
Al-Madah
Pada zaman jahiliyah tema ini banyak dan pada
zaman permulaan sedikit dan pada zaman Bani Umayyah berkembang lagi. Tema ini
sangat disukai oleh para khalifah atau pimpinan pada saat itu (Nur Chalis
Sofyan : 125)
Tema ini digunakan oleh penyair untuk
mendapatkan hadiah dari khalifah dan pimpinan. Tema ini sebatas pujian terhadap
kemuliaan, keberanian dan kesetiaan pada masa Jahiliyah. Sedangkan pada masa
Bani Umayyah pujiannya berkrmban ke aspek lain seperti Agama.
Para penyair memuji seseorang karena
ketakwaan, keshalihan dan keistiqamahannya, memuji para komandan yang membunuh
musuh Islam, pempinan yang memberika hukuman kepada orang jahat, khalifah yang
memperluas kekuasaannya dan yang menjamin rakyatnya.
2.
Al-Ghazal
Tema Al-Ghazal mu cul karena munculnya
kehidupan yang serba mewah dibeberapa tempat. Dan di masa Bani Umayyah
Al-Ghazal dibagi menjadi dua.
ü
Ghazal ‘Udzri
Ghazal ‘Udzri yaitu ghazal yang menggambarkan perasaan seseorang terhadap
kekasihnya tetapi bukan menggambarkan yang kurang senonoh. Ghazal muncul di
sebalah utara Hijaz dan merupakan kelanjutan Ghazal yang mencul pada zaman
permulaan Islam. Diantara para penyair yang menulis tema ghazal ‘udzri adalah
Kutsyyir Ibn Abdurrahman al Khazaniy, Jamil Ibn Abdullah Ibn Mu’amaar al Udzri.
ü
Ghazal Maksuuf
Gahazal Maksuuf yaitu ghazal yang m,enggambarkan tubuh wanita serta
keindahaan-keindahannya. Diantara penyair yang menuliskan tema ini adalah Umair
Ibn Abdulaah Ibn Abi Rabiah al-Makhzumi, Abdullah Ibn Umar Ibn Amr Ibn Utsman
Ibn Affan Al-Quraisy (Nur Chalis Sofyan : 126)
3.
Al-Washf
Tema Al-Washf berkembang pada zaman Bani
Umayyah kerena kehidupan orang Arab zaman pada zaman ini mulai berubah baik
dari segi mata pencaharian, cara hidup dan tempat tinggalnya. Maka deskripsi
tentang kehidupan di zaman itu pun berubah tentang istana, sungai, tentara,
benteng juga ada deskripsi tentang konflik bathin atau tentang mazhab-mazhab
agama.
4.
Al-hiya
Tema Al-Hiya yang sudah ada pada zaman
jahiliyah berkembang lagi pada zaman Bani Umayyah, tema ini sangat dibutuhkan
untuk mengobarkan fitnah di antara sekte yang berkembang dimasyarakat. Tema ini
berkembang dan berubah menjadi Naqa’idh.
Seperti hanya pada zaman jahiliyah dan
permulaan islam, tema ini berisi tentang sejarah para kabilah yang hidup
dikedua zaman itu. Pada zaman Bani Umayyah tema ini juga mencatat kehidupan
seperti sisitem politik dan gaya kehidupan sosial atau adat-istiadat
orang-orang arab, baik yang baik maupun yang buruk. Penyair tekemukan dalam
tema ini adalah Jarir al-Farazdaq dan Akhtal (Nur Chalis Sofyan : 125)
Selain tema-tema yang telah berkembang juga ada tema-tema baru yang muncul
di zaman Bani Umayyah. Diantaranya adalah :
1.
Al-Siyasaat (Politik)
Al-siyasaat adalah tema yang memuji-muji atau
mencela penguasa atau partai politik. Tema ini muncul karena banyaknya
partai-partai politik yang salaing menfitnah dan berselisih.
Tema ini muncul diwarnai oleh perpecahan di
kalangan umat Islam yaitu semenjak terjadi perperangan atara golongan Ali dan
Mu’awiyah yang dikenal dengan perang Siffin. Kemudian tampil golongan ketiga
“Khawarij” yang tidak setuju dengan sikap Ali yang mengambil keputusan
Arbritase, begitu juga terhadap kubu Mu’awiyah yang melakukan cara licik.
Ketika itu masing-masing kelompok memiliki doktrin tersendiri dan mereka
berusaha menarik masa sebanyak-banyaknya dan menarik para penyair untuk
mendukung pihaknya. (Al-Taftazani 1974 : 64)
2.
An-Naqaaidh
An-Naqaaidh adalah tema yang mengobarkan permusuhan
diantara para penyair. Aspek yang dipolemikkan biasanya tentang politik atau
tentang kehidupan mewah para khalifah dan pemimpin.
3.
Syi’ru al Futuh wa ad-da’wah al-Islamiyah
Syi’ru al Futuh wa ad-da’wah al-Islamiyah
adalah puisi yang menggambarkan tentang perluasan dan dakwah Islam. Dalam puisi
ini menggambarkan bagaimana Islam memperluas daerahnya, tentang keimanan para
tentara muslim atau tentang berjihad di
jalan Allah. Diantara tema yang ditulis adalah patriotisme, ratapan dan
kerinduan terhadap tanah air.
II.
Gaya Puisi pada Zaman Bani Umayyah
Gaya puisi pada zaman Bani Umayyah bermacam-macam, diantaranya :
1.
Gaya yang sukar seperti gaya puisi pada masa
jahiliyah (puisi prismatis). Gaya puisi primatis dapat kita lihat pada penyair-penyair
bersar di zaman Umayyah diantaranya : Al-Farazdaq, Jarir, Al-Akhtal, Dzul
Rummah, Ar-Ra’i al Humayri. Ciri-ciri puisi gaya prismatis diantaranya sulit
dicerna, banyak kata-kata yang ukan merupakan kata-kata sehari-hari, hubungan
antara katanya kuat, tidak ada tambahan kata yang maknanya tidak diperlukan.
2.
Gaya yang mudah, seperti bahasa sehari-hari
(diafan)
Gaya puisi diafan dapat dilihat dapat dilihat
dari penyair Ghazal dari Hijaz seperti Jamil Busaynah, Kusyayyir Azzah.
Ciri-ciri gaya diafan diantaranya : kata-kata mudah, susunan katanya teratur
dan rapi, sering dijadikan lagu.
3.
Gaya yang berapa diantara yang sukar dan yang
mudah
Gaya puisi mudah kadang-kadang qasidah (ode)
nya dimulai dengan ghazal, ada washf tentang kuda atau cinta, ada madah fakhr,
hiya dan lain-lainnya.
(Nur Chalis Sofyan, 2004 : 129)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar