Minggu, 22 Maret 2015

SIHIR PULAU BERHALA (Revisi End)

(ceritanya tulisan ini masuk majalah)
Nekad dan Tekad, itulah sebuah kata tepat dilekatkan untuk mengawali petualangan saya ini. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan menyinggahi sebuah pulau terluar yang terletak di selat Malaka, Pulau Berhala. Awalnya hanya sebuah impian iseng yang kemudian terwujud dengan lantang. Dengan Bismillah, saya memulai segalanya.

Perjalanan ini sebenarnya adalah upaya untuk menghibur diri yang mulai terintimidasi oleh tugas akhir kuliah (skripsi) sehingga saya memutuskan untuk ikut jelajah Pulau Berhala dengan travel tour. Biaya yang dikenakan bekisar Rp. 400.000,- (tahun 2012) dengan paket wisata 2 hari satu malam dan fasilitas yang kita dapatkan antara lain transportasi pergi-pulang, asuransi, makan selama dipulau, perizinan, snorking, keliling pulau dengan perahu karet dan sebagainya. 

Jumat, 5 Oktober 2012 pukul 20.05 WIB setelah sholat isya saya beranjak dari Asrama Putri USU menuju tempat berkumpulnya para petualang yang hendak ke Pulau Berhala. Ketika sampai ditempat saya langsung disambut hangat oleh ranger (pemandu) dengan jabatan hangat. Upz tapi tunggu dulu, saya juga menyambutnya hanya dengan senyuman dan mengtangkup kedua tangan saya (bukan mahram Brother!). Dan karena saya adalah solo traveller, mau tidak mau saya lah yang memulai mencari teman cerita perjalanan dan Alhamdullillah semuanya pada welcome terhadap saya 

Pukul 22.00 WIB mobil kami pun mulai melaju, dengan mata yang terlelap gamang, akhirnya tengah malam kami sampai di kampung nelayan. Begitu sampai di tempat, sembari menunggu kapal yang disewa dan komsumsi  untuk menyebrang ke Pulau Berhala saya mencoba berkenalan dengan pelancong lainnya. Setelah semua persiapan selesai, satu persatu kami masuk ke kapal nelayan dan akhirnya kami pun duduk seperti susunan ikan dikapal, tanpa celah. Pukul 01.00 dini hari kapal pun melau melajukan dirinya menuju tujuan, dengan langit yang menjadi atap, dihiasikan rembulan dan bebintang membuat saya merasa takjub akan keindahan alam yang Alloh ciptakan ini, MasyaAlloh. Lama perjalanan di kapal nelayan ini dapat menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam kita terombang-ambing di tengah lautan.

Ternyata sudah masuk waktu sholat subuh pun kami belum sampai di pulau sehingga saya memutuskan sholat di kapal dengan wudhu dengan air laut (asiiiin banget). Menikmati sunrise di tengah laut membuat saya tidak bias henti-hentinya bersyukur kepada Alloh atas keindahan alam ini.
Sabtu, 6 Oktober 2012 pukul 07.00 WIB kami pun sampai di Pulau Berhala, langsung saja kami menuju mess, mess laki-laki dan perempuan tentunya dipisah. Setelah berberes-beres, kaki saya sudah tidak sabar untuk menjelajahi pulau ini dan tentunya para ranger sudah siap memandu kami untuk menjelajahinya. Oya, di pulau ini tidak terdapat penduduk (warga) yang menetap, yang ada hanya petugas KAMLA (Keamanan Laut) dari TNI-AL dan petugas Navigasi dari Departemen Perhubungan dan mess yang kami tempati juga milik mereka.
Dihari pertama ini, jadwal jelajah kami hanya jungle tracking (mercusuar, makam tua, dan keliling pulau). Untuk menuju mercusuar kami harus menaiki sekitar 800 anak tangga. Walaupun melelahkan tetapi diatas mercusuar kamu dapat melihat dengan utuh Pulau Berhala. Keliling hujan dipulau ini sangat menyenangkan, walaupun kami agak tersasar dan ada kejadian beberapa orang terpisah dari rombongan. Di makam tua kmi semua diberitahu oleh ranger agar selama dipulau harus menjaga sikap, tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan mereka juga member tahu legenda pulau ini sehingga disebut Pulau Berhala. Katanya sih  nih pulau dizaman dulu digunakan sebagai tempat para orang sakti melayu untuk bertarung guna mendapatkan siapa yang paling kuat, jika selama bertarung ada yang meninggal maka jasadnya akan dibiarkan saja di pulau ini. Wallahua’lam.

Malam harinya adalah waktunya untuk baberque, dan membuat api unggun. Menjelang tengah malam kami bersiap-siap ingin mengintip penyu yang bertelur, jika beruntung kita dapat melihatnya.
Dihari terakhir, kami diajak para ranger untuk keliling pulau dengan perahu karet. Waah pengalaman yang sangat mengasikkan. Setelah puas keliling, ada yang melanjutkannya dengan snorking, diving dan ada yang sekedar berenang ditepi pantai. Cukup menyenangkan perjalanan saya ini, dan merilekskan kembali pikiran seolah-oleh terkena sihir pulau ini.
Ahad, 7 Oktober 2012 pukul 15.00 WIB kami pun pulang.

Atas segala nikmat yang Alloh berikan ini, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman)

Data Singkat Pulau Berhala

Di Kabupaten Serdang Bedagai terdapat Pulau Berhala yang secara administrasi berada di wilayah Kecamatan Tanjung Beringin tepatnya di Desa Bagan Kuala.


SECARA GEOGRAFIS
  • Luas  Pulau Induk : + 44,75 Ha
  • Luas Pulau Sokong Nenek: + 0,5 Ha
  • Luas Pulau Sokong Siembang: + 1,5 Ha  
  • Terletak Diposisi : 030 46’ 38” Lintang Utara dan 990 30’ 03” Bujur Timur
  • Panjang Garis Pantai: + 700 m
  • Pulau ini berbatasan dengan daratan Sumatera Utara di sebelah Barat dan Semenanjung Malaysia di sebelah Timur
#fotonya menyusul#

Rabu, 04 Maret 2015

Diary Skripsi Mahasiswa O2 + n

Diary Skripsi Mahasiswa O2 + n 
Part 4 


 BACA CERITA SEBELUMNYA Diary Skripsi Mahasiswa O2 + n Part Three

Suatu hari ada seorang pemuda yang ingin menyempurnakan agamanya (menikah) maka ia segera mengutarakan kepada seorang abang dekat yang sering disapa Murobbi.

"Bang, saya berkeinginan untuk menikah"
Dan dijawab oleh sang murobbi tanpa bertele-tele,"Segera antum persiapkan data proposal, foto dkk (gak tau apa aja yg nulis belum pernah).
"Ya bg, segera saya persiapkan.

Sejenak ia termenung, ia merasakan kembali gejora menjadi mahasiswa tingkat akhir kembali setelah mendengar kata 'proposal'. Terbayang dalam pikirannya ia bahwa kemudian ia akan bimbingan, melakukan penelitian, seminar, sidang. "Huuuh... Apakah aku sanggup?"Keluhnya dalam hati.

Yap coba anda bayangkan saja, ia tidak bisa sembarangan untuk menuliskan proposal tersebut, harus benar-benar benar. Proposal tersebut adalah gerbang awal untuk sebuah kepastian klo ia mesih ragu lebih baik konsultasi dulu kepada yang sudah berpengalaman. Tetapi klo ia sudah mantap maka segerakanlah diajukan. Setelah mengajukan proposal tahap berikutnya ia akan dibimbing oleh dlm hal ini MRnya untuk mempejelas isi proposalnya, penelitiannya adalah ta'arufnya. Khithbah adalah seminarnya. Dalam seminar ia akan digodok kembali, bukan hanya murobbinya tetapi ada juga murabbi dr si yg ditelitinya (dosen menguji, dkk). Jikalau dirasa sudah mantap ia kembali akan melaksanakan bimbingan skripsi untuk proses kelanjutannya yaitu sidang. Dalam sidang ia harus benar2 sudah mantap tidak ada lagi kata mundur. Bismillah, niatkan semuanya pada Alloh, insyaalloh ikhtiarnya tidak akan sia-sia. Dan sidangnya adalah ijab kabulnya... Hasil sidang itu akan ia bawa sampai akhir hayat dan akan ia pertanggungjawabkan dihadapan Alloh.

Tiba-tiba...
"Hei Sho..!!!"
"Yaa ngg..nggg... (Dengan wajah linglung)
"Kamu dengar apa yang ibu ucapkan kan?"
"Oh ya bu, insyaalloh saya sudah mantap"
"Mantap??" Giliran dosen pembimbingnya yang bingung.
"Ooh maaf maaf bu, sampai mana tadi ya bu?" Tersadar dar lamunannya.
"Hmm kayanya kamu butuh istirtahat sho, pulanglah. Sudah ibu kasih tanda dan penjelasan diskripsi kamu nih, kamu pelajari saja dulu. Jika ada yang kurang mengerti tanyakan kpd saya."
"Ya bu" tertunduk malu...

*ternyata yang tadi itu hanya lamunan, ia memang masih mahasiswa tingkat akhir.