Diary Skripsi Mahasiswa O2 + n
Part Three
SEKIAN
Sebelum baca cerita ini ada baiknya baca cerita-cerita sebelumnya:
Sho terus merenungi nasibnya, begitu nestapa. Makan tidak selera, minum tidak nafsu, mandi tidak mau, kerja tidak semangat, dan bernafas pun mulai malas. Pandangannya hanya pada satu titik yaitu ''Skripsi''. Peristiwa ajakan makan siang Sang Dosen yang ia salah artikan tersebut berdampak besar pada kehidupan Sho. Sejak saat itu Sang Dosen tidak memperdulikan kehadirannya lagi. Sho sudah berusaha memberi penjelasan padanya tetapi tetap saja kata ''putus'' menjadi akhir segalanya (Loh, kok jadi cerita yang ini?)
Skripsi itu selalu menghantui hari-harinya. Wajah mentari pun terlihat pucat dimatanya. Apalagi wajahnya sendiri bak bulan purnama bermuram durja.
Dan lagi setelah ia menerima telepon dari Ibunya, Sho semakin terpojokan. Ia ingin sekali segera lulus dan terbebas dari jeratan kegalauan ini. Dan sekali lagi ia menghubungi Sang Dosen.
Tuuuut....tuuutt.....#$%#^&%&*%^#^%^@^*)(....
"Halo, ini saipa?" tanya seseorang diseberang sana.
"Ini Sho Bu, mahasiswa bimbingan Ibu."
"Maaf, siapa ya? saya tidak kenal. Saya sekarang sedang sibuk." dan telepon itu pun mati.
"Arrggghhh......" teriak Sho mengagetkan seluruh penduduk kosan.
Esok paginya.....
Sho sudah berada di kampusnya dengan membawa kitab kelulusannya (Skripsi). Ia sudah bertekat baja, harus menemui dosennya tersebut. Ia juga sudah siap apapun yang akan dibilang dosennya tersebut. Tetapi hampir 3 jam ia menunggu kehadiran Sang Dosen, belum ada tanda-tanda bakalan muncul dan pada akhirnya ia memutuskan bertanya kepada pegawai tata usaha di kantor jurusan.
"Bang, Ibu *** sudah datang belum? atau lagi masuk kelas?"
"Hari ini Bu *** menghadiri seminar di Gedung Audit."
"Oh, makasih ya Bang."
Dan gagal kembali Sho menemui dosennya. Ia melangkah lungkai kembali ke kosannya. Matanya nanar, panas dan mengeluarkan cairan yang disebut Air Mata. Sho mencoba menghubungi Sang Dosen lagi tetapi selalu bernada mail box dan kadang di reject. Sho hampir pasrah dan ia sempat melirik botol Baygon di sampingnya.
"Astaghfirullah, tidak... gue gak boleh begini. gue harus tetap semangat. Disetiap kesulitan selalu ada kemudahan. Aamiin" Batin Sho menghibur diri. Pagi harinya Sho mencoba mendatangi ruangan Sang Dosen dan Alhamdulillah Sang Dosen berada di tempat.
Tok..tok..tookk.....
"Ya Masuk."
"Maaf Bu saya mengganggu."
"Ya ada apa ya, saya sedang sibuk sekarang."
"Oh maaf Bu, saya cuma mau menanyakan gimana dengan kelanjutan skripsi saya."
"Belum sempat say periksa, ntar deh kalau saya tidak sibuk. Ada lagi?"
"Jadi kira-kita kapan bisa ya Bu?" usaha Sho.
"Ya nanti kalau saya tidak sibuk, untuk sekarang tidak bisa." jawab ketus Sang Dosen.
Sho pun keluar dari rumahan dosennya, langkahnya lunglai lagi. Semangatnya mulai padam dan ia sempat berpikir dendam dengan dosennya. "Ya Allah, bantulah hamba menyadarkan dosen hamba." doanya dalam hati.
Sore harinya....
Sho jalan-jalan sore diajak oleh teman sekosnya, Khoir namanya. Khoir merasa Sho butuh reflesing untuk menyegarkan pikirannya kembali. Tetapi di tengah perjalanan santai mereka, mereka melihat ada seorang Ibu-ibu sedang kesusahan. Sang Ibu tersebut sedang mendorong motornya yang mogok. Sho dan Kho mendekati Sang Ibu tetapi setelah beberapa langkah, Sho sadar bahwa yang Ibu tersebut adalah Dosennya.
Langkahnya terhenti, sejenak ia berfikir. Dengan raut senyum yang licik ia mulai mendekati dan jalan melenggang dihadapan dosennya. Kho merasa heran.
Tiba-tiba......
"Sho...!!" Panggil Sang Dosen.
Sho membalikkan badannya dan pura-pura bingung.
"Kamu Shony kan? Mahasiswa saya? Kamu bisa bantu saya, motor saya mogok nih. Mungkin kehabisan bensin. Tolong belikan bensin di SPBU depan bisa? soalnya gak kuat saya terus-terusan mendorong." pinta Sang dosen.
Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Sho pun menjawab," Maaf, siapa ya? saya tidak kenal. Saya sekarang sedang sibuk."
Sang Dosen dan Kho Ternganga tidak percaya.
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar