Mau dibawa kemana sarjana kita
Jika kau terus menunda-nunda
tanpa ada kerja yang nyata
setelah wisuda
"Armada
mode on"
Angin sepoi-sepoi di pelataran taman Biro Rektor ini sangat menggoda. Kemudian saya terduduk di bangku dekat majalah dinding (mading). “Cukup hening ya.” Batinku. Sambil melirik sekeliling orang-orang
yang sedang sibuk melihat lembaran-lembaran yang ditempel dimading itu.
Tenang
dan fokus serta mata tajam penuh harapan. Apa sih yang mereka cari? Saya pun bangkit
dan mulai memperhatikan dengan seksama. “Ahaa, tenyata lowongan kerja.”
Pikiranku
perlahan-lahan mulai melambung, flash back to my last...
Awal
ketika masuk kuliah, lugu, rajin ke kampus dan tidak pernah absen hadir. Semuanya
terasa begitu penyenangkan. Pengalaman baru dalam kehidupan kampus. Serasa jiwa
ini baru hidup. Semua hal-hal kecil pun terasa menakjubkan. Hampir semua
kegiatan aku geluti, semua menarik dan ingin kucoba. Tapi perlahan-lahan,
seiring perjalanan waktu, kejenuhan melanda.
Duniaku
mulai disibukkan berbagai kegiatan tapi pemasukkan tiada. “Kritis”
Dan akhirnya
aku memulai berbisnis. Ini pengalaman yang sangat menyenangkan. Hidup teras
bercukupan. Mulai jualan buku, jadi reseller konveksi, tupperware dan sophie
martin sudah saya geluti dan yang terakhir adalah bisnis parcel. Menjalankan suatu
bisnis itu bukanlah perkara gampang. Banyak hal yang diuji, dan yang paling
diuji adalah mental. Dipandang sebelah mata oleh orang lain alias diremehkan,
dan ada juga yang mencemooh. Ketika kondisi mulai terpuruk, tak berdaya seorang
teman selalu memberi masukkan dan memotivasi saya. Saya bersyukur karenanya dan
saya berfikir inilah realitas kehidupan. Imipanmu adalah impianmu, jadi
dirimulah yang harus mewujudkan impianmu
Terbesit
difikiran saya mau jadi apakah setelah lulus kuliah ini? Walaupun saya tidak
memiliki data yang konkrit, saya tahu bahwa setiap universitas di Indonesia ini
meluluskan ribuan mahasiswanya. Tapi untuk selajutnya apakah kita tahu?
Seperti
cerita dalam sinetron, seorang pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. Kita sependapat
bahwa ia adalah orang yang lucky. Ada juga yang beruntung mencoba masuk Pegawai
Negeri Sipil (PNS) atau pun perusahaan lainnya, Ketika kesempatan hadir bersama
keberuntungan maka i’ts amazing. Serta ada juga yang mencoba bangkit sendiri
dengan usahanya, dengan modal seadanya dan dengan semangat dan doa yang tiada
tara ia berhasil membangun bisnis dan ia juga dapat membantu orang lain dengan
mempekerjakan di bisnisnya itu. But for the lose?? Hidup segan mati tak mau,
mungkin selogan yang cocok. Kemudian ia akan terkenal sebagai PENGACARA
(Pengangguran Banyak Acara), yaaah acara buat lamaran kerja.
Just
stop it!!! Hidup akan tetap hidup sebelum ajal menjemput, tapi kebahagiaan
adalah pilihan dalam hidupmu. Tentukan arah hidupmu sekarang, you’re the winner
or loser. Sarjana, Mau Dibawa Kemana (?)

terkadang.. kita hanyan bisa berdoa dan berusaha slenjutnya masalah takdir itu bukan Urusan kita sebgai Hamba... tetapi takdir Urusan Allah SWT... tetap berproses..
BalasHapustapi kita harus memiliki target hidup yang jelas bukan? Hiduplah seperti air mengalir walaupun kadang terlihat tenang tapi ia tetap memiliki gelombang
BalasHapusBikin Proposal hidup :) saya sudah mencobanya :) 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan, 20 tahun kedepan :) :)
BalasHapusSemoga sukses dan dapat membantu orang lain sukses juga....... :)
HapusKalau kata Prof kaka, "Mau jadi apapun kalian nanti. Jadilah orang yang paling banyak manfaatnya untuk orang banyak. Niatkan itu semenjak kalian masih duduk di bangku ini, Bangku kuliah." Kalimat itu begitu terpatri buat kaka. ALhamdulillaah..kaka dapet pekerjaan yang begitu menyenangkan. Setelah wisuda alhamdulillaah belum ada pernah jadi pengacara. Syukur ya Allaah. Dan sebenernya yang paling penting itu dek. Apapun yang kita lakukan itu harus fokus. Jangan semuanya mau dikerjain tapi harus fokus pada salah satu bidang yang kita tekuni. Walaupun jika ada seorang yang bisa menguasai semua bidang :)
BalasHapuslike this kak Sarah.........
Hapus