Senin, 25 Februari 2013

Sarjana, mau dibawa kemana (?)



si Emak sedang gendong si anak
Mau dibawa kemana sarjana kita
Jika kau terus menunda-nunda
tanpa ada kerja yang nyata
setelah wisuda
"Armada mode on"

Angin sepoi-sepoi di pelataran taman Biro Rektor ini sangat menggoda. Kemudian saya terduduk di bangku dekat majalah dinding (mading). “Cukup hening ya.” Batinku. Sambil melirik sekeliling orang-orang yang sedang sibuk melihat lembaran-lembaran yang ditempel dimading itu.
Tenang dan fokus serta mata tajam penuh harapan. Apa sih yang mereka cari? Saya pun bangkit dan mulai memperhatikan dengan seksama. “Ahaa, tenyata lowongan kerja.”
Pikiranku perlahan-lahan mulai melambung, flash back to my last...
Awal ketika masuk kuliah, lugu, rajin ke kampus dan tidak pernah absen hadir. Semuanya terasa begitu penyenangkan. Pengalaman baru dalam kehidupan kampus. Serasa jiwa ini baru hidup. Semua hal-hal kecil pun terasa menakjubkan. Hampir semua kegiatan aku geluti, semua menarik dan ingin kucoba. Tapi perlahan-lahan, seiring perjalanan waktu, kejenuhan melanda.
Duniaku mulai disibukkan berbagai kegiatan tapi pemasukkan tiada. “Kritis”
Dan akhirnya aku memulai berbisnis. Ini pengalaman yang sangat menyenangkan. Hidup teras bercukupan. Mulai jualan buku, jadi reseller konveksi, tupperware dan sophie martin sudah saya geluti dan yang terakhir adalah bisnis parcel. Menjalankan suatu bisnis itu bukanlah perkara gampang. Banyak hal yang diuji, dan yang paling diuji adalah mental. Dipandang sebelah mata oleh orang lain alias diremehkan, dan ada juga yang mencemooh. Ketika kondisi mulai terpuruk, tak berdaya seorang teman selalu memberi masukkan dan memotivasi saya. Saya bersyukur karenanya dan saya berfikir inilah realitas kehidupan. Imipanmu adalah impianmu, jadi dirimulah yang harus mewujudkan impianmu
Terbesit difikiran saya mau jadi apakah setelah lulus kuliah ini? Walaupun saya tidak memiliki data yang konkrit, saya tahu bahwa setiap universitas di Indonesia ini meluluskan ribuan mahasiswanya. Tapi untuk selajutnya apakah kita tahu?
Seperti cerita dalam sinetron, seorang pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. Kita sependapat bahwa ia adalah orang yang lucky. Ada juga yang beruntung mencoba masuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pun perusahaan lainnya, Ketika kesempatan hadir bersama keberuntungan maka i’ts amazing. Serta ada juga yang mencoba bangkit sendiri dengan usahanya, dengan modal seadanya dan dengan semangat dan doa yang tiada tara ia berhasil membangun bisnis dan ia juga dapat membantu orang lain dengan mempekerjakan di bisnisnya itu. But for the lose?? Hidup segan mati tak mau, mungkin selogan yang cocok. Kemudian ia akan terkenal sebagai PENGACARA (Pengangguran Banyak Acara), yaaah acara buat lamaran kerja.
Just stop it!!! Hidup akan tetap hidup sebelum ajal menjemput, tapi kebahagiaan adalah pilihan dalam hidupmu. Tentukan arah hidupmu sekarang, you’re the winner or loser. Sarjana, Mau Dibawa Kemana (?)

6 komentar:

  1. terkadang.. kita hanyan bisa berdoa dan berusaha slenjutnya masalah takdir itu bukan Urusan kita sebgai Hamba... tetapi takdir Urusan Allah SWT... tetap berproses..

    BalasHapus
  2. tapi kita harus memiliki target hidup yang jelas bukan? Hiduplah seperti air mengalir walaupun kadang terlihat tenang tapi ia tetap memiliki gelombang

    BalasHapus
  3. Bikin Proposal hidup :) saya sudah mencobanya :) 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan, 20 tahun kedepan :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga sukses dan dapat membantu orang lain sukses juga....... :)

      Hapus
  4. Kalau kata Prof kaka, "Mau jadi apapun kalian nanti. Jadilah orang yang paling banyak manfaatnya untuk orang banyak. Niatkan itu semenjak kalian masih duduk di bangku ini, Bangku kuliah." Kalimat itu begitu terpatri buat kaka. ALhamdulillaah..kaka dapet pekerjaan yang begitu menyenangkan. Setelah wisuda alhamdulillaah belum ada pernah jadi pengacara. Syukur ya Allaah. Dan sebenernya yang paling penting itu dek. Apapun yang kita lakukan itu harus fokus. Jangan semuanya mau dikerjain tapi harus fokus pada salah satu bidang yang kita tekuni. Walaupun jika ada seorang yang bisa menguasai semua bidang :)

    BalasHapus