Apa kabar nih para pembaca setia? udah lama ya saya kagak cuap-cuap diblog dan sekarang saya mau berbagi cerita tentang kota kelahiran saya nih, yaitu Binjai. Sejarah tentang berdirinya kota Binjai ini masih sedikit yang membahas. Menurut beberapa sumber yang saya dapatkan kata Binjai itu merupakan kata yang berasal dari bahasa karo, kata "ben" dan "i-jéi" yang artinya "bermalam di sini". Pengertian ini dipercaya oleh masyarakat asli kota Binjai, khususnya
etnis Karo merupakan cikal-bakal kota Binjai pada masa kini. Hal ini
berdasarkan fakta sejarah, bahwa pada masa dahulu kala, kota Binjai
merupakan perkampungan yang berada di jalur yang digunakan oleh
"Perlanja Sira" yang dalam istilah Karo merupakan pedagang yang membawa
barang dagangan dari dataran tinggi Karo dan menukarnya (barter) dengan
pedagang garam di daerah pesisir Langkat. Perjalanan yang ditempuh Perlanja Sira
ini hanya dengan berjalan kaki menembus hutan belantara menyusuri jalur
tepi sungai dari dataran tinggi Karo ke pesisir Langkat dan tidak dapat
ditempuh dalam waktu satu atau dua hari, sehingga selalu bermalam di
tempat yang sama, begitu juga sebaliknya, kembali dari dataran rendah
Karo yaitu pesisir Langkat, Para perlanja sira ini kembali
bermalam di tempat yang sama pula, selanjutnya seiring waktu menjadi
sebuah perkampungan yang mereka namai dengan "Kuta Benjéi". [Sumber Wikipedia Kota Binjai]
Ada juga cerita bahwa nama Binjai berasal dari...............
Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang telah mengutus Jhon Anderson untuk pergi ke pesisir Sumatera Timur dan dari catatannya disebutkan sebuah Kampung yang bernama Ba Bingai (Menurut buku Mission to The Eastcoast Sumatera – Edinburg 1826). Sebenarnya sejak tahun 1822, Binjai telah dijadikan bandar/pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah dari perkebunan lada di sekitar Ketapangai (Pungai).
Upacara adat dalam rangka pembukaan kampung tersebut diadakan di bawah sebatang pohon “BINJAI“ yang rindang dan batangnya amat besar, tumbuh kokoh di pinggir Sungai Bingai yang bermuara ke Sungai yang dahulunya cukup besar dan dapat melayari sampan – sampan besar yang berkayuh. Disekitar pohon Binjai yang besar itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama kelamaan menjadi besar dan luas yang akhirnya berkembang menjadi “ BANDAR “ atau pelabuhan yang ramai didatangi tongkang – tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung Pura dan juga dari Semenanjung Malaka, kemudian nama Pohon Binjai itulah yang akhirnya melekat menjadi nama Kota Binjai yaitu sebangsa pohon embacang.
Pada masa penjajahan Belanda Tahun 1864 Daerah Deli telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner Belanda bernama J.Nienkyis dan 1866 didirikan Deli Maatschappiy. Usaha untuk menguasai Tanah Deli oleh orang Belanda tidak terkecuali dengan menggunakan politik pecah belah melalui pengangkatan datuk-datuk. Usaha ini diketahui oleh Datuk Kocik , Datuk Jalil dan Suling Barat yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda bahkan melakukan perlawanan. Dibawah kepemimpinan Datuk Sunggal bersama rakyat di Timbang Langkat (Binjai) dibuat Benteng pertahanan untuk menghadapi Belanda. Dengan tindakan datuk Sunggal ini Belanda merasa terhina dan memerintahkan Kapten Koops untuk menumpas para Datuk yang menentang Belanda. Dan pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran yang sengit antara Datuk/Masyarakat dengan Belanda.Peristiwa perlawanan inilah yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Binjai.
Terlepas pada sejarah kota Binjai, sekarang saya memberi gambaran tentang kota ini bedasarkan ikon yang terdapat dapa kota Binjai ini. Paling tidak, ada tiga kata yang mewakili Binjai. Rambutan - Tugu - Pasar Kaget. Saya akan menjelasanya satu per satu. Oke...?? siap-siap ya,,, pasang sabuk pengaman. hehehe
1. Rambutan
Ada juga cerita bahwa nama Binjai berasal dari...............
Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang telah mengutus Jhon Anderson untuk pergi ke pesisir Sumatera Timur dan dari catatannya disebutkan sebuah Kampung yang bernama Ba Bingai (Menurut buku Mission to The Eastcoast Sumatera – Edinburg 1826). Sebenarnya sejak tahun 1822, Binjai telah dijadikan bandar/pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah dari perkebunan lada di sekitar Ketapangai (Pungai).
Upacara adat dalam rangka pembukaan kampung tersebut diadakan di bawah sebatang pohon “BINJAI“ yang rindang dan batangnya amat besar, tumbuh kokoh di pinggir Sungai Bingai yang bermuara ke Sungai yang dahulunya cukup besar dan dapat melayari sampan – sampan besar yang berkayuh. Disekitar pohon Binjai yang besar itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama kelamaan menjadi besar dan luas yang akhirnya berkembang menjadi “ BANDAR “ atau pelabuhan yang ramai didatangi tongkang – tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung Pura dan juga dari Semenanjung Malaka, kemudian nama Pohon Binjai itulah yang akhirnya melekat menjadi nama Kota Binjai yaitu sebangsa pohon embacang.
Pada masa penjajahan Belanda Tahun 1864 Daerah Deli telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner Belanda bernama J.Nienkyis dan 1866 didirikan Deli Maatschappiy. Usaha untuk menguasai Tanah Deli oleh orang Belanda tidak terkecuali dengan menggunakan politik pecah belah melalui pengangkatan datuk-datuk. Usaha ini diketahui oleh Datuk Kocik , Datuk Jalil dan Suling Barat yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda bahkan melakukan perlawanan. Dibawah kepemimpinan Datuk Sunggal bersama rakyat di Timbang Langkat (Binjai) dibuat Benteng pertahanan untuk menghadapi Belanda. Dengan tindakan datuk Sunggal ini Belanda merasa terhina dan memerintahkan Kapten Koops untuk menumpas para Datuk yang menentang Belanda. Dan pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran yang sengit antara Datuk/Masyarakat dengan Belanda.Peristiwa perlawanan inilah yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Binjai.
Terlepas pada sejarah kota Binjai, sekarang saya memberi gambaran tentang kota ini bedasarkan ikon yang terdapat dapa kota Binjai ini. Paling tidak, ada tiga kata yang mewakili Binjai. Rambutan - Tugu - Pasar Kaget. Saya akan menjelasanya satu per satu. Oke...?? siap-siap ya,,, pasang sabuk pengaman. hehehe
1. Rambutan
Masih adakah yang belum pernah dengar buah rambutan? Wah kalau ada, kelewatan bingitz deh kamu....
Buah rambutan itu adalah buah yang terbungkus oleh kulit yang memiliki "rambut" di bagian
luarnya (Endokarp). Warnanya hijau ketika masih muda, lalu berangsur
kuning hingga merah ketika masak/ranum. Endokarp berwarna putih, menutupi "daging". Bagian buah yang dimakan, "daging buah", sebenarnya adalah salut biji atau aril, yang bisa melekat kuat pada kulit terluar biji atau lepas. Rasanya yang manis dapat membuat kamu yang memakannya ketaguhan loh. Buah rambutan ini musiman, berbuah sekitar bualan november-januari. Sekarang ini buah rambutan sudah dimanfaatkan menjadi berbagai produk oleh-oleh khas Binjai. Diantaranya menjadi sirup, bolu gulung, selai, kripik dan lainnya.
2. Tugu Perjuangan 1945
Tugu Perjuangan 1945 merupakan salah satu ikon yang menjadi lambang pintu gerbang Kota Binjai menyambut kedatangan pengunjung dari luar kota. Tugu ini dibangun kira-kira pada tahun 1974. Detail tentang tugu ini saya kurang tahu karena keterbatasan informasi dan sumber tapi secara umum orang-orang Binjai mengenal tugu ini sebagai tempat penilangan kendaraan oleh Bapak-bapak polisi yang terhormat.
3. Pajak (Pasar) Kaget
Hayo siapa yang belum pernah datang ke tempat ini? Pasar atau pajak (sebutan org SUMUT) merupakan tempat kuliner terlengkap. Segala macam makanan dijual disini. Pajak Kaget ini mulai buka dari jam 17.30 sampai tengah malam pun mesih buka. Setiap hari selalu ramai apalagi ketika weekend. Harga makanan disini pun sangat terjangkau. Dulu Abah dan Emak saya sering ajak makan disini , bg cecep dan bg mitra pun ikut, sekarang kami sudah gede2 malah jarang kumpul bareng. Oya kesukaan saya disini sih makan sate maduranya, kebetulan Bg Mitra pun kenal sama yang jualan. Terbaiikkk!!!
Tunggu apalagi? ayo segera icip-icip makanannya....
Galeri Foto Kota Binjai:
Hm..... saya rasa cukup sekian cuap-cuapnya ttg Kota Binjai, jika mesih penasaran silahkan saja datang... yoo ayooo......
2. Tugu Perjuangan 1945
Tugu Perjuangan 1945 merupakan salah satu ikon yang menjadi lambang pintu gerbang Kota Binjai menyambut kedatangan pengunjung dari luar kota. Tugu ini dibangun kira-kira pada tahun 1974. Detail tentang tugu ini saya kurang tahu karena keterbatasan informasi dan sumber tapi secara umum orang-orang Binjai mengenal tugu ini sebagai tempat penilangan kendaraan oleh Bapak-bapak polisi yang terhormat.
3. Pajak (Pasar) Kaget
Hayo siapa yang belum pernah datang ke tempat ini? Pasar atau pajak (sebutan org SUMUT) merupakan tempat kuliner terlengkap. Segala macam makanan dijual disini. Pajak Kaget ini mulai buka dari jam 17.30 sampai tengah malam pun mesih buka. Setiap hari selalu ramai apalagi ketika weekend. Harga makanan disini pun sangat terjangkau. Dulu Abah dan Emak saya sering ajak makan disini , bg cecep dan bg mitra pun ikut, sekarang kami sudah gede2 malah jarang kumpul bareng. Oya kesukaan saya disini sih makan sate maduranya, kebetulan Bg Mitra pun kenal sama yang jualan. Terbaiikkk!!!Tunggu apalagi? ayo segera icip-icip makanannya....
Balai Kota Binjai Tempo Dulu
Balai Kota Binjai Sekarang
Masjid Agung Tempo Dulu
foto tahun 1890-1894
Foto Masjid Agung yang Sekarang.
Rumah Sakit Bangkatan Tempo Dulu
Liat Perbedaannya walaupun terdapat pemugaran bangunan rumkit ini tetapi bentuk asli bangunan tersebut mesih dipertahankan...........
Salah satu sudut di Rumah Sakit Bangkatan Kota Binjai. Tampak bangunan dulu yang masih terjaga keasliannya
Stasiun Kereta Api BINJAI Tahun 1930.
Stasiun KA Binjai Sekarang, belum banyak yang berubah.
Hm..... saya rasa cukup sekian cuap-cuapnya ttg Kota Binjai, jika mesih penasaran silahkan saja datang... yoo ayooo......
Wassalamu'alaikum Wr Wb.










Mbk nazwa gimana kirim alamatku? Gk bisa pm dan juga gk bisa add friend. Aku bingung -,-. Heehe sorry. .
BalasHapuskatanya mau ngirimi postcard. mana?
BalasHapusWah, menarik
BalasHapusYa, terima kasih....
Hapuskalau boleh tau, arsitek balai kota binjai siapa ya?
BalasHapusterima kasih
Foto Masjid lama itu bukan Masjid Agung tetapi Masjid Raya. Itukan foto dari museum di Belanda. Masjid Agung yang sekarang adalah bekas gudang tembakau PTP. Masjid Agung dibangun sekitar tahu 1980
BalasHapusterima kasih atas koreksinya Pak.
Hapus