Kamis, 13 Desember 2012

Salak Medan vs Salak Jogja (Versi Nazwa)

       Salak, siapa sih yang tidak mengenal buah yang satu ini? Buah yang kulitnya seperti sisik ular ini memiliki nama ilmiahnya adalah Salacca zalacca. Sama dengan buah yang lainnya, salak juga memiliki banyak penggemar atau penyuka buah tersebut, salah satunya adalah saya. Alhamdulillah, sore tadi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar saya dan memberikan oleh-oleh dari Jogjakarta, yaitu salak pondoh. Awalnya saya mengira rasa buah salak itu sama saja dengan buah salak yang sering saya makan. Tetapi setelah saya mencicipi salak pemberikan Kak Zizah ini, akhirnya saya menemukan perbedaannya.
       Hmm, gigitan pertama saya lumat daging salak itu dengan perlahan-lahan. Ada 'sesuatu' yang sangat terasa dilidah saya yang membuat saya penasaran dan kemudian mengupas salak yang kedua. Saya mengunyah perlahan-lahan sampai dibuah salak yang ketiga, saya pun berhenti menguyah. Saya berkesimpualan, yah inilah cita rasa salak pondoh Jogja.
       Saya sebagai putri kelahiran Sumatera Utara, yang sudah hidup hampir 21 tahun mungkin lidah saya pun sudah termasuk lidah khas SUMUT. Buah salak yang sering saya makan, adalah buah salak yang ditanam oleh petani SUMUT juga. Dan ketika saya mencicipi buah salak pondoh Jogja itu, ada 'sesuatu' yang hilang dilidah saya, 'sesuatu' yang membuat saya bertanya-tanya, apakah ini benaran buah salak?
       Tercetuslah pernyataan saya,"Rasanya kok salak ini enak ya? tapi kurang ada geregetnya dilidah?" pertanyaan ini saya lontarkan kepada teman sekamar saya di Asrama, yang pada saat itu kami sedang menikmati buah salak pondoh tersebut. Ternyata teman saya itu juga merasakan hal yang sama. Buah salak pondoh Jogja ini manis tetapi ada yang kurang terasa dilidah. Huft, bukan saya saja yang merasakannya.
     Seperti kata pepatah "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Walaupun sedikit memaksakan maksud pepatah tersebut dengan kesimpulan saya yang beranggapan bahwa sebuah buah akan menuruni sifat para penanam dan tempat dirinya ditanam tetapi ya terserah saya dong, karena saya yang menulis artikel ini, hehe..
       Sesuai karakter orang Jawa yang lebih kalem, sampai-sampai buah salak pondoh ini pun jadi ikutan kalem (menurut saya ya!!!). Tetapi ini tidak menutup kemungkinan bahwa pernyataan saya di artikel ini salah. Sekarang Anda cobalah mencicipi salak pondoh Jogja dengan salak asli SUMUT dan berikan komentar Anda.
Saya Cinta Produk SUMUT!!!

Sedikit Info Buah Salak dan Manfaatnya dapat Anda lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Salak

4 komentar:

  1. Artikel yang cukup menarik. memang rasa itu menuruti sifat tanah dimana dia ditanam. kalo salak jogja tu menurut saya mirip sama salak bali. kalo salak medan gimana ya, kirim donk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar bulan Juni, Insyaallah nzw ke Jogja, tak bawain deh...

      Hapus
  2. salak pondoh jogja gak ada sepet2nya ya wa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kak ayuuu..... Iya kak, nzw kan suka yg sepet2... haahahaa

      Hapus